<strong>Ada Nematode Pada Tanaman Kentang? Kenali Gejala Dan Penanganannya</strong>

Ada Nematode Pada Tanaman Kentang? Kenali Gejala Dan Penanganannya

Sumber : mplk.politanikoe.ac.id

Nematoda merupakan salah satu jenis hama yang tidak bias dianggap remeh. Bahkan telah menjadi masalah serius di sentra-sentra produksi kentang di Indonesia. Hal ini karena nematoda berpotensi menurunkan produksi secara drastic baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Oleh karena itu, jika sudah tampak gejala-gejala serangan yang ditimbulkan, petani harus segera melakukan tindakan pengendalian dan pencegahan.

Perlu diketahui, dua jenis nematoda yang menyerang tanaman kentang yaitu Nematoda Puru akar (Meloidogyne sp.) dan Nematoda Sista Kuning (Globodera rostochiensis). Adapun Nematoda puru akar adalah jenis hama yang menginfeksi akar perkembangannya sangat cepat. Akibatnya, pertumbuhan tanaman akan terganggu dan akan timbul gejala-gejala lainnya seperti daun mengalami klorosis dan timbul benjolan pada permukaan akar dan umbi kentang.

Sedangkan Nematoda Sista Kuning (NSK) ini merupakan nematode parasite utama pada tanaman kentang yang berpotensi menimbulkan kehilangan hasil panen hingga mencapai 80%.. Hal ini karena Nematoda sista kuning akan mengganggu pertumbuhan tanaman dan menghambat pembentukan umbi. Gejala yang ditimbulkan dari adanya serangan ini yaitu terjadinya klorosis pada daun dan terdapat agregat berwarna kuning/keputihan yang menempel pada bagian perakaran.

Jika sudah terdapat gejala-gejala tersebut, maka yang harus dilakukan oleh petani adalah segera mencabut tanaman yang terinfeksi atau menerapkan system bera yaitu menghindari penanaman tanaman kentang dan sejenisnya (cabai,tomat,terong) hingga waktu tertentu untuk memutus siklus hidup hama. Infeksi oleh nematode kedua jenis ini bisa dicegah melalui beberapa rekomendasi berikut :

  • Solarisasi yaitu menutup lahan dengan plastik polietilen selama 6 minggu sebelum tanam (solarisasi).
  • Mengaplikan biocontrol berupa cendawan predator Lecanicilium sp. (Verticon, Bevarin), (40g/tanaman) sebagai campuran media tanam atau inokulasi pada bibit.
  • Bersihkan lahan dari gulma Solanaceae
  • Rotasi dengan tanaman non inang (minimal 3 musim)
  • Cara kimiawi dengan menggunakan Carbofuran (Furadan 3GR), Kadusafos (Ruby 10 GR), Karbosulfan (Marshal 5GR)

Oleh karena itu, sangat penting bagi petani untuk mengetahui strategi penanganan dan pencegahan hama yang tepat dalam proses budidaya tanaman kentang. Selain itu, diperlukan sebuah alat atau system yang membantu petani dalam memantau kondisi dan perkembangan pertanian secara real time terutama dari serangan hama, tanpa harus mengelilingi lahan dan mengecek tanaman satu per satu. Alat dan sistem otomatis bisa didapatkan di KerabaTani Indonesia yang merupakan start up pertanian berbasis teknologi yang kini sedang mengembangkan teknologi pertanian guna meningkatkan efektivitas dan efisiensi aktivitas pertanian. Beberapa produk teknologi pertanian KerabaTani adalah Zenbox, drone, dan beberapa alat lainnya yang bisa melakukan pemantauan secara otomatis berbasis android. Informasi lengkap mengenai produk tersebut bisa diakses di http://kerabatani.com/produk/. Website ini akan membantu petani Indonesia dalam mengatasi permasalahan di lapangan dan mengenal lebih jauh tentang KerabaTani Indonesia. Adanya produk pertanian berbasis teknologi ini, diharapkan mampu mendukung digitalisasi pertanian di Indonesia sehingga mampu menciptakan petani yang cerdas dan pertanian yang berkelanjutan.

Leave a Reply