Anjuran Untuk Petani Jagung Ketika Memanen Tanamannya
Jagung Photo by Juraj Berta from Pixabay

Anjuran Untuk Petani Jagung Ketika Memanen Tanamannya

Jenis-jenis jagung yang dikembangkan di Indonesia diantaranya yaitu jagung hibrida, jagung komposit dan jagung transgenik. Jagung hibrida merupakan keturunan pertama dari persilangan yang memiliki karakter yang unggul. Jagung komposit atau biasanya disebut jagung lokal adalah jenis jagung yang pada jaman dulu ditanam petani setempat yang menyerbuk sendiri tanpa bantuan manusia. Jagung transgenik merupakan jenis jagung hasil dari penyisipan gen yang berasal dari makhluk hidup atau non-makhluk hidup sehingga tanaman itu menjadi lebih kuat.

Mulai dari tahap pengolahan tanah hingga panen, petani harus memperhatikan dengan benar tahapan – tahapannya untuk menghindari gagal panen karena gangguan hama atau penyakit. Petani bisa mengikuti langkah demi langkahnya di blog www.kerabatani.com yang telah disiapkan khusus untuk membantu para petani di seluruh Indonesia. Untuk tahap panen jagung sendiri, lebih baik dilakukan pada musim kemarau dibanding musim hujan. Hal ini karena waktu pemasakan biji dan pengeringan hasil akan menjadi lebih efektif. Waktu panen jagung dilakukan berdasarkan tujuan tingkat kemasakan buah yang diinginkan. Selain itu, waktu dini hari merupakan waktu panen yang bagus karena intensitas cahaya di ladang jagung masih rendah sehingga suhu juga tidak terlalu panas. Kondisi tersebut dapat menghemat waktu dan membantu untuk pendinginan pascapanen.

Variasi kebutuhan waktu panen jagung bermacam-macam, bergantung pada penggunaannya.

Berikut ini penjelasan kebutuhan waktu panen yang dimaksud.

  1. Jagung semi (baby corn)

Jagung semi dipanen pada saat umur jagung berusia 40—50 hari setelah tanam atau pada saat 5—6 hari setelah bunga betina muncul dan belum dibuahi.

  • Jagung untuk rebus atau sayur

Jagung yang akan dikonsumsi oleh masyarakat menjadi bahan masakan bisa dipanen saat berumur 60—70 hari setelah tanam. 

  • Biji kering

Jagung yang dipanen pada saat biji kering umumnya dilakukan saat jagung sudah berumur 80—110 hari setelah tanam, atau saat umur tanaman sudah mencapai maksimum.  Pemanenan

Pemanenan dilakukan dengan cara diputar tongkol dan klobotnya lalu dipatahkan tongkol jagung. Jagung yang masih menempel pada batang dikupas agar kadar air dalam tongkol dapat diturunkan sehingga jamur tidak tumbuh.

Pasca Panen

Tahap pengeringan jagung dilakukan untuk menurunkan kadar air sekitar 9-11% selama 7-8 hari. Pengeringan dapat dilakukan dibawah sinar matahari, dapat pula menggunakan mesin pengering dan tidak dianjurkan menyimpan jagung pada kadar air biji >15% dalam karung untuk waktu lebih dari satu bulan. Tahap pemipilan dilakukan setelah proses pengeringan selesai. Tahap sortasi dilakukan dengan memisahkan jagung dengan kotoran yang tidak dikehendaki. Tongkol tidak disimpan dalam keadaan basah karena dapat menyebabkan tumbuhnya jamur

Leave a Reply