Awas!! Ini Dia Gejala Tanaman Kubis Anda Sudah Terserang Bakteri
kubis

Awas!! Ini Dia Gejala Tanaman Kubis Anda Sudah Terserang Bakteri

Tanaman kubis merupakan jenis tanaman yang banyak ditanam di daerah pegunungan dengan ketinggian +800 mdpl dan curah hujan yang cukup setiap tahunnya. Pada umumnya, kubis ditanam dengan pola monokultur atau polikultur (tumpang sari). Salah satunya dengan tanaman tomat. Selain itu, kubis termasuk dalam jenis tanaman yang memiliki adaptasi musim yang tinggi. Dalam artian, kubis bisa ditanam pada semua musim di Indonesia dengan syarat kebutuhan airnya terpenuhi. Namun, waktu tanam yang paling baik adalah pada awal musim hujan atau musim kemarau.

Meksipun demikian, budidaya kubis memiliki banyak sekali tantangan. Terutama dari gangguan hama dan penyakit. Jika tidak segera diatasi, maka akan berdampak pada menurunnya kualitas produk pertanian. Bahkan resikonya hingga gagal panen. Bakteri adalah salah satu jenis hama penyerang tanaman kubis yang patut diwaspadai oleh petani. Berikut beberapa jenis bakteri tersebut, antara lain :

Erwinia carotovora

Erwinia carotovora merupakan salah satu jenis bakteri yang sulit dikendalikan karena menyerang tanaman baik di lapangan maupun di tempat penyimpanan (pasca panen) jika lingkungan dalam kondisi lembab. Bakteri Erwinia memproduksi enzim pectinase yang dapat mengurai pektin pada dinding sel tanaman bagian lamela tengah. Tanaman kubis yang terserang bakteri ini dapat dilihat dari adanya busuk basah dengan warna coklat atau kehitaman pada daun, batang, dan umbi. Pembusukan juga terjadi pada pangkal krop hingga krop mudah dilepas dari batang kubis. Cara mengatasinya, petani bisa menggunakan Asam Oksolinik (Starner 20 WP), Asilbenzolar-S-metil + Mankozeb (Bion M 1/48 WP) dan antibiotik berupa Streptomycin (Agrept 20 WP)(200 ppm) + Chloramphenicol (200 ppm). Selain itu, petani juga perlu melakukan tindakan pencegahan agar bakteri tidak menyerang kembali dan menimbulkan efek yang lebih fatal.

Berikut rekomendasi pencegahan tanaman kubis dari bakteri Erwinia, antara lain :

  • Melakukan pergiliran tanaman untuk memutus daur hidupnya.
  • Tumpangsari kubis dengan tomat
  • Membuang kubis yang terinfeksi
  • Menghindari penanaman dekat tanaman vektor Erwinia lainnya misalnya, Porang

Xanthomonas campestris

Xanthomonas campestris merupakan bakteri penyebab penyakit busuk hitam pada tanaman kubis. Bakteri ini cenderung menyerang tanaman pada kondisi lembab. Xanthomonas campestris berbeda dengan pathogen pada umumnya yang hanya menyerang pada jaringan dari kulit biji. Menurut Walker (seorang ahli penyakit tanaman di Amerika), Xanthomonas campestris menetralisir benih melalui xylem dan bergerak masuk ke bagian biji. Disinilah penyebaran penyakit terjadi ke tanaman sehat melalui berbagai macam cara, seperti aliran air, serangga, spora yang terbawa angin dan sebagainya. Adapun gejala-gejala yang ditimbulkan akibat serangan bakteri Xanthomonas campestris ini meliputi :

  • Terdapat bercak berwarna kuning pada tanaman kubis dan warna pucat di tepi-tepi daun.
  • Bercak kuning yang ada membentuk menyerupai huruf V di sepanjang pinggir daun
  • Tulang daun tampak berwarna coklat tua atau hitam.
  • Tampak berkas pembuluh berwarna gelap
  • Jaringan helaian daun mengering dan menjadi seperti selaput dengan tulang daun berwarna hitam

Oleh karena itu, petani sangat perlu mengetahui cara penanganan dan pencegahan pada tanaman kubis yang terserang bakteri ini. Cara mengatasi yang paling mudah yaitu dengan menangkap dan membunuh belalang secara langsung, atau bisa juga dengan cara kimiawi melalui penggunaan insektisida Fastac 15 EC atau penyemprotan dengan senyawa organofosfat dilakukan jauh sebelum panen. Selanjutnya, untuk mencegah penyerangan kembali, petani bisa menerapkan rekomendasi ini sebagai langkah pencegahan, antara lain :

  • Menanam tanaman refugia (kenikir, tahikotok, bunga matahari) untuk mengundang serangga predator
  • Pengendalian terpadu dengan ayam

Itulah beberapa strategi penanganan dan pencegahan hama yang tepat dalam proses budidaya tanaman kubis. Selain itu, diperlukan sebuah alat atau system yang membantu petani dalam memantau kondisi dan perkembangan pertanian secara real time terutama dari serangan hama, tanpa harus mengelilingi lahan dan mengecek tanaman satu per satu. Alat dan sistem otomatis bisa didapatkan di KerabaTani Indonesia yang merupakan start up pertanian berbasis teknologi yang kini sedang mengembangkan teknologi pertanian guna meningkatkan efektivitas dan efisiensi aktivitas pertanian. Beberapa produk teknologi pertanian KerabaTani adalah Zenbox, drone, dan beberapa alat lainnya yang bisa melakukan pemantauan secara otomatis berbasis android. Informasi lengkap mengenai produk tersebut bisa diakses di http://kerabatani.com/produk/. Website ini akan membantu petani Indonesia dalam mengatasi permasalahan di lapangan dan mengenal lebih jauh tentang KerabaTani Indonesia. Adanya produk pertanian berbasis teknologi ini, diharapkan mampu mendukung digitalisasi pertanian di Indonesia sehingga mampu menciptakan petani yang cerdas dan pertanian yang berkelanjutan.

Leave a Reply