Bawang Merah VS Bawang Putih, Samakah Pemeliharaannya?
Bawang Putih Photo by cff2.earth.com

Bawang Merah VS Bawang Putih, Samakah Pemeliharaannya?

Bawang putih merupakan tanaman semusim yang pertumbuhanya mirip dengan bawang merah, dengan penampakan helaian daun pada bawang putih tipis dan tangkai buahnya padat. Bawang putih (Allium Sativum) termasuk dalam famili Liiliaceae, yang memiliki rasa khas, dan sangat mempengaruhi cita rasa terhadap masakan. Sehingga, masakan apapun yang menggunakan bawang putih, akan menjadi lebih gurih dan sedap. Tidak hanya menjadi aspek penting untuk cita rasa masakan, bawang putih juga memiliki segudang manfaat untuk kesehatan diantaranya yaitu bisa menurunkan kolesterol, menurunkan hipertensi, dan mengobati berbagai macam penyakit lainnya. 

Di Indonesia, kebutuhan bawang putih cukup tinggi sehingga prospek pembudidayaan bawang putih cukup menjanjikan.  Permintaan bawang putih masih lebih besar dibandingkan produksi nasional. Masih sangat rendahnya produksi bawang putih nasional disebabkan beberapa faktor, antara lain luas lahan, iklim, dan benih.

Meskipun satu keluarga dengan bawang merah yang merupakan tanaman asli dari Asia Tengah, pemeliharaan bawang putih sedikit berbeda dengan bawang merah. Berikut adalah beberapa poin pemeliharaan bawang putih yang perlu diperhatikan.

  1. Penyiangan Gulma dan Pembumbunan

Penyiangan gulma dilakukan dengan membersihkan area pertanaan dari gulma yang tumbuh. Waktu penyiangan dilakukan berbarengan dengan pemupukan yaitu pada 15,35, dan 50 HST. Frekuensi penyiangan gulma dapat ditambah jika laju pertumbuhan gulma cukup pesat. Penyiangan dihentikan saat bawang putih sudah memasuki fase generatif karena dapat mengganggu proses pembentukan dan pembesaran umbi. Sedangkan pembumbunan dilakukan dengan memperbaiki atau meninggikan bedengan yang sekaligus membersihkan lahan dari akar rumput yang masih tertinggal pada saat penyiangan.

  • Pemupukan

Pemupukan pada tanaman bawang putih dibagi menjadi tiga tahap yakni pemupukan susulan I, II dan III

  • Pemupukan susulan I (15 HST): Urea 200 kh/ha dan NPK 100 kg/ha
  • Pemupukan susulan II (35 HST): Urea 100 kg/ha dan NPK 200 kg/ha.
  • Pemupukan susulan III (50-55 HST): NPK 300 kg/ha
  • Pengairan

Penyiraman dan pengairan sebaiknya dilakukan 2-3 hari sekali pada fase awal pertumbuhan tanaman bawang putih. Di daerah dataran tinggi, pengairan dilakukan 3 kali setiap minggu. Pada masa pembentukan tunas sampai membentuk umbi dilakukan pengairan 7-15 hari sekali. Pengairan baru dihentikan pada saat pembentukan umbi maksimal atau 10 hari sebelum panen. Cara pemberian air dapat dilakukan dengan penyiraman atau penggenangan (leb). Waktu penyiraman paling baik dilakukan pada pagi atau sore hari yaitu pada saat penguapan air dalam tanah dan suhu udaranya rendah.

Temukan informasi menarik lainnya hingga produk-produk pertanian dengan kualitas terbaik yang didukung dengan teknologi canggih di www.kerabatani.com. Para petani yang melek pengetahuan akan dapat mengoptimalkan hasil panen mereka, lalu meraup untung sebesar-besarnya.

Leave a Reply