Ini Dia KerabaTani, Karya Berkelanjutan yang Membanggakan

sumber : http://formadiksi.um.ac.id/ini-dia-kerabatani-karya-berkelanjutan-yang-membanggakan/

Malang – Setelah masuk 10 besar dan otomatis ditetapkan sebagai Finalis National Essay Competition (NEC) 2018, tim Ari Gunawan berpasangan dengan Austin Fascal Iskandar  sebagai delegasi Forum Mahasiswa Bidikmisi Universitas Negeri Malang (Formadiksi UM) berhasil menyabet “Best Poster” dalam kompetisi tersebut. Sebelum menuai kemenangan di NEC, KerabaTani yang diangkat sebagai ide esai sebenarnya juga telah berlaga di berbagai event. Salah satunya yang termuat dalam Formadiksi UM News dengan judul Taiwan Cultural and Creative Camp: KerabaTani Bawa Mahasiswa Bidikmisi UM Singgah di Negeri Naga Kecil Asia.

KerabaTani sendiri merupakan grand design yang dibuat dengan fokus pada bidang pertanian. Dengan berlatarbelakang kepedulian terhadap nasib petani-petani yang ada di pelosok, maka terciptalah KerabaTani yang juga fokus pada aplikasi berbasis realtime. Tertarik dengan hadirnya karya berkelanjutan ini, Reporter Formadiksi UM News merangkum sedikit tentang KerabaTani sebagai berikut.

Keren! KerabaTani punya founder, guys.

Sebelum masuk lebih jauh ke KerabaTani itu sendiri, ternyata grand design ini memiliki founder. Siapa saja para founder-nya? Lebih jelasnya, berikut para founder dari KerabaTani.

Ari Gunawan, mahasiswa Fakultas Ekonomi, Manajemen angkatan 2017;

Austin Fascal Iskandar, mahasiswa Fakultas Teknik, Teknik Elektro angkatan 2017; dan

Moch. Hafidhuddin Karim, mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fisika angkatan 2017.

Serius dalam menggarap KerabaTani, Tim Ari juga mendapat bimbingan dari Dosen Pembimbing, Dr. Eng. Muhammad Ashar, S.T., M.T., yakni salah satu Dosen Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang.

KerabaTani bukan sekadar karya sesaat, KerabaTani punya orientasi turun ke masyarakat

Pada Bulan Agustus lalu, Ari, Austin, dan juga Karim telah melalangbuana ke negara-negara di Asia guna mengembangkan inovasi KerabaTani. Austin berlaga di Taiwan, Ari di Malaysia, Singapura, dan Thailand, sedangkan Karim mengikuti kegiatan startup di Jakarta oleh Bank Indonesia. Dalam event-event tersebut KerabaTani mendapatkan berbagai penghargaan dimana setelahnya KerabaTani harus bisa turun ke masyarakat. Maka dalam hal ini, KerabaTani patut diapresiasi sebab tak sekadar karya namun juga terdapat dilakukan aksi nyata sebagai pengaplikasinnya.

 “Nah, untuk bisa turun ke masyarakat, hasil dari riset yang kami lakukan di berbagai negara, event, dan acara yang juga menghadapi berbagai orang yang ada di belahan Indonesia bahkan Asia itu membuat kami ingin riset lebih dalam lagi. Dari situ kita menghasilkan pengembangan bagaimana arah berkembang dari fitur-fitur KerabaTani. Jadi pengembangan kami itu, ada berbagai macam, kak. Yang pertama lewat kompetisi, lewat masyarakat, dan lewat tim ahli. Untuk kompetisi, salah satunya lewat kompetisi ilmiah. Karena itu kita akan ketemu dengan praktisi,” jelas Ari pada kesempatan wawancara Kamis lalu (28/11).

Pada NEC 2018, Ari dan Austin usung Trigonal ABC sebagai pengembangan salah satu fitur KerabaTani

Dalam hal ini Ari menjelaskan secara singkat terkait fitur KerabaTani yang mereka kembangkan dalam NEC 2018.

“Mas Austin dengan saya mengembangkan KerabaTani. Nah, di esai yang saya angkat pada lomba kali ini adalah salah satu pengembangan fitur dari KerabaTani-nya. Jadi kayak esai ini adalah bagian kecil dari KerabaTani. Bagian kecil ini disebut Trigonal ABC atau Trigonal Artifical Intelligence, Big-Data and Cloud Computing, jadi intinya itu adalah marketplace pertanian atau pasar online pertanian, hasil produk pertanian,” jelas Ari.

Jadi, apa tujuan diciptakannya KerabaTani dan Trigonal ABC?

“Tujuan dari KerabaTani itu, kalau dari grand design-nya KerabaTani, kita menghubungkan tiga sektor penting pertanian, yaitu investor petani, petani sendiri, dan juga marketplace.

Untuk pengembangan yang sekarang itu, dari segi petani dan marketplace yang paling difokuskan. Nah, untuk petani sendiri, jadi nanti KerabaTani akan bisa memunculkan rekomendasi secara realtime terhadap lahan petani tersebut. Jadi ketika jam segini, ketika cuacanya segini, ketika suhu tanahnya segini, petani itu harus memberikan apa, petani itu harus memberlakukan apa, karena itu secara realtime akan diberi tahu melalui aplikasi ini. Makanya di lapangan itu perlu adanya sensor. Jadi, untuk yang pertama, tujuan dari KerabaTani adalah untuk bisa membuat suatu sistem pintar, panduan pertanian yang bersifat realtime secara update. Itu sistemnya.

Lalu dari sistem marketplace-nya sendiri, yang disebut Trigonal ABC itu kita tujuannya untuk bisa memperlancar alur distribusi pertanian. Jadi selama ini kan banyak inovasi-inovasi pertanian yang menghubungkan petani dan pembeli langsung. Padahal kan kita juga punya distributor atau yang dalam Bahasa Jawa-nya disebut tengkulak. Nah itu kan kayak bisa untuk memperlancar arus perdagangannya. Tapi sekarang ini melalui teknologi yang ada, kayak langsung dipotong gitu lo. Padahal itu punya potensi yang sangat besar. Karena kalau petani, kita nggak cuma bicara petani urban yang ada di pinggiran kota, tapi juga petani-petani yang ada di pelosok-pelosok. Nah, gimana kita bisa menjangkaunya kalau nggak ada distributor-distributornya. Nah jadi, di tujuan yang kedua yaitu kita bisa menghubungkan antara petani, distributor, dan juga pembelinya.”

Setelah menyusuri berbagai negara, KerabaTani berkesempatan menyabet “Best Poster” dalam NEC 2018. Apa yang dilakukan Ari dan tim hingga mampu meraih prestasi “Best Poster”?

Dalam menggarap poster NEC 2018 ini, Tim Ari banyak belajar dan melihat kembali dari poster-poster Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) hingga Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS). Tim Ari juga memperhatikan berbagai hal terkait isi konten hingga tingkat keterbacaan.

“Kalau kita bicara poster ilmiah, misal kita ada lomba Karya Tulis Ilmiah (KTI) atau esai, itu kita juga harus berani lihat poster-poster yang ada di PIMNAS, di PKM, terutama poster-poster yang dapat emas sih. Nah itu kita lihat komponen-komponen dan kontennya. Bagaimana mereka bisa menggambarkan poster mereka dengan enak dilihat, tetapi kontennya juga banyak. Jadi, mulai dari latar belakang, tujuan, metode, cara kerja, keunggulan, terus mitranya siapa, terus fiturnya apa saja, hasil yang didapatkan apa, kesimpulan, tim pengembang, dan isinya tersebut banyak sekali kan ya. Nah itu bagaimana kita bisa mengemasnya ke dalam satu poster yang tingkat keterbacaannya juga baik. Jadi selain kita punya konten yang bagus, tapi kita juga harus punya tingkat keterbacaan yang bagus juga,” jelasnya.

Nah itu tadi adalah sedikit rangkuman dari KerabaTani, salah satu karya mahasiswa Bidikmisi UM yang patut diapresiasi. Di akhir wawancara, Ari memberikan sepatah dua patah kata untuk mahasiswa Bidikmisi, khususnya mahasiswa Bidikmisi Universitas Negeri Malang untuk tetap berprestasi dan terus berkontribusi untuk negeri.

“Kita harus terus bisa berprestasi di bidangnya masing-masing, di passion-nya masing-masing. Tunjukkan kalau Bidikmisi itu pantas kita raih, dan berikan kontribusi yang terbaik untuk negara.” (Amanatul Haqqil Ibad)

KerabaTani, Start-up Agriculture Karya Mahasiswa Indonesia yang Go International Partnership

Dikutip dari thenextdev.id, Kerabatani merupakan platform digital di sektor pertanian yang memanfaatkan teknologi yang dilakukan dengan menghubungkan tiga komponen besar dalam sistem pertanian. Di antaranya, petani, investor dan pembeli. Tujuan Kerabatani dibuat adalah untuk meningkatkan produktivitas, menjaga mutu, serta pemberian gizi yang tepat pada setiap tanaman.

Pertanian atau yang dapat disebut sebagai sektor pangan adalah sektor strategis dan vital bagi berlangsungnya kehidupan dan perekonomian. Pengaruh pangan tidak lagi hanya pada tingkat individu bahkan sampai ke tingkat masyarakat dalam tatanan negara bahkan dunia, sebagaimana menurut Kuznets (1964) “Sektor pertanian adalah sektor paling penting dan tumpuan pada negara-negara berkembang”.

Secara umum terdapat 4 masalah mendasar yang dihadapi petani di Indonesia: (1) Panjangnya rantai pasok penjualan hasil pertanian di Indonesia. Menurut (Maryam, 2015) hal yang menghambat peningkatan kesejahteraan masyarakat pertanian adalah masalah kelembagaan. Keterbatasan dalam kelembagaan pertanian menyebabkan tidak efisiennya rantai pasok antara produsen dan konsumen;(2) Permodalan yang masih kurang di bidang pertanian. Menurut (Surata, 2015) Permodalan dalam pertanian terbagi menjadi 3 besar bagian yaitu adalah biaya produksi pertanian, seperti upah buruh tani, pupuk, bibit, dan sebagainya. Ditambah dengan penggunaan teknologi yang juga membutuhkan permodalan yang cukup besar; (3) Kurang berkolaborasinya stakeholder terkait dalam bidang pertanian yang seharusnya bisa membantu peningkatan produktivitas pertanian, yaitu Petani, Investor, Bussines Partnership Farming Bussines Partnership Farming; dan (4) Masih belum adanya teknologi yang bersifat solutif dalam hal penjamin kualitas hasil pertanian. Kegagalan panen petani biasanya disebabkan oleh dua sebab utama yaitu karena iklim yang tidak menentu serta serangan hama (Endang, 2011)

KerabaTani merupakan aplikasi berbasis Trigonal Smart Management Agricultural System yang menghubungkan 3 elemen penting dalam proses pertanian yaitu: petani, investor, serta bussines partnership melalui 4 langkah mudah, yaitu Mapping, Monitoring, Investing dan Marketplace. Trigonal Smart Management Agricultural System merupakan pengembangan suatu sistem yang mempertemukan tiga sektor penting dalam pertanian melalui sebuah teknologi pintar berbasis aplikasi. Smart di sini mewakilkan di mana proses mempertemukan tiga sektor utama dalam pengembangan pertanian berkelanjutan, teratasinya masalah pertanian kompleks seperti, peningkatan permodalan pertanian, teknologi penjamin hasil pertanian, serta peningkatan kesejahteraan petani melalui efficience market system.

Semua hal itu yang membawa KerabaTani, sebuah start-up karya Mahasiswa asal Universitas Negeri Malang berhasil menembus kerja sama dengan Dayeh University of Taiwan, salah satu universitas terbesar di Taiwan. Setelah melalui beberapa tahapan untuk melakukan pitching di depan investor dan pengembang asal Dayeh University yang merupakan tajuk kerja sama dengan kampus asal yaitu Universitas Negeri Malang akhirnya start-up ini terpilih untuk bisa mendapatkan kesempatan bekerja sama dan melakukan pengembangan teknologi di Taiwan, khususnya di Dayeh University selama 1,5 Bulan. Start-up ini didirikan oleh 3 tim utama yaitu Ari Gunawan, Austin Fascal Iskandar, dan Moh. Hafidhuddin Karim.

Kerja sama di Taiwan

“Sementara pihak dekan Faculty of Techno Dayeh melihat platform teknologi IoT KerabaTani cukup potensi untuk dikerja samakan dengan produk sensor IoT yang mereka miliki untuk smart farming. Mereka bersedia untuk dilakukan pengembangan teknologi KerabaTani dalam implementasi di wilayah malang dengan pengambilan data tanaman berbasis AI program. Selanjutnya penyempurnaan prototype monitoring tanaman agar lebih efisien dengan pengiriman data ceoat ke sistem informasi petani serta energi sensor wireless yang digunakan akan dibantu uji coba di sini.

Sementara untuk aplikasi analisa investing akan dicoba dilakukan desain baru pada user interface dengan menggunakan algoritma Augmented Reality dengan simulasi virtual pada lab multimedia digital content. Namun materi AR workshop baru akan di pelajari Selasa dan rabu besok. Rencana ke depan produk aplikasi marketplace akan diusahakan sharing dengan information management dan computer science. Semoga kedua departemen tersebut memberikan respon dan kesempatan untuk bekerja sama” Keterangan dari Dr. Eng. Muhammad Ashar Selaku dosen dan pendamping start-up KerabaTani.

“Jadi pada visiting dan program TCCC bidang mobile apps yang akan dikembangkan adalah IoT smart Farming pada aplikasi monitoring kerbatani, Analisa investing berbasis AR design UI/UX, dan Analisa market place yang dinamis” Lanjut beliau menerangkan melalui wawancara via telfon. “Amat membanggakan bila mengingat Indonesia termasuk salah satu negara agrikultur terkaya di dunia. Prestasi tersebut tak mengejutkan memang mengingat negeri ini memiliki bentangan daratan dan perairan yang begitu luas. Namun sayang banget karena segala potensi yang dimiliki ibu pertiwi belum sepenuhnya dimanfaatkan dengan baik. Untuk itu, kehadiran beberapa startup di bidang agrikultur berikut dirasa amat membantu demi meningkatkan taraf hidup para pelaku indsutri ini. KerabaTani tercatat sebagai finalis kompetisi early stage startup terbaik, Talent Scouting The NextDev Telkomsel 2018! dan masih memperebutkan golden tiket asal Semarang” dikutip dari website thenextdev.id .

Ingin memberikan dukungan kepada startup ini? Kunjungi situs resminya di bit.ly/KerabaTani atau media sosial Instagram @kerabatani.id. Bila tertarik menjadi investor dan kerja sama, bisa kirimkan email ke alamat kerabatani.id@gmail.com

Ingin tahu lebih banyak mengenai aplikasi ini silakan cek video produk aplikasi ini di Youtube ya.