Ini Dia Beberapa Jenis Serangga Yang Menyerang Tanaman Kentang Dan Rekomendasi Penanganannya
Kentang Photo by Couleur

Ini Dia Beberapa Jenis Serangga Yang Menyerang Tanaman Kentang Dan Rekomendasi Penanganannya

Sumber : blog.tanijoy.com

Kentang merupakan salah satu tanaman holtikultura yang menjadi komoditas utama yang banyak dikembangkan di dunia setelah ubi jalar. Tingkat kebutuhan masyarakat terhadap kentang pun bisa dikatakan cukup tinggi karena kentang menjadi salah satu diversifikasi pangan di Indonesia. Namun, tingginya permintaan masyarakat ini tidak menurunkan kualitas kentang yang dibutuhkan. Untuk menghasilkan produk pertanian yang baik dan berkualitas, petani harus melakukan optimalisasi dalam hal pengendalian terhadap penyakit dan hama pada tanaman kentang. Terlebih, penyakit dan hama ini menjadi permasalahan utama yang sangat rentan dihadapi dalam budidaya tanaman kentang terutama pada fase generatif pembentukan umbi. Jika tidak segera diatasi, permasalahan ini akan berdampak pada tingginya tingkat kegagalan panen.

Salah satu hama yang sering menyerang tanaman kentang adalah serangga. Ada berbagai jenis serangga yang memiliki gejala masing-masing dengan penanganan dan pencegahan yang berbeda pula. Oleh karena itu, pemahaman seputar hama menjadi hal yang sangat penting untuk dikuasai oleh petani. Berikut ini beberapa jenis hama serangga penyerang tanaman kentang beserta gejala dan pengendaliannya :

Ulat Tanah (Agrotis ipsilon)

Tanaman kentang yang terserang serangga jenis ulat tanah ini akan menunjukkan gejala berupa adanya lubang menganga tak beraturan pada satu sisi umbi kentang. Satu-satunya cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi hama jenis ini yaitu dengan menggunakan lambda-sihalotrin (Matador 25 CS). Selanjutnya, jangan lupa untuk menerapkan langkah pencegahan melalui solarisasi dengan cara menutup lahan dengan plastik polietilen selama 6 minggu sebelum tanam.

Ulat Jengkal (Chrysodeixis chalcites)

Gejala yang ditimbulkan akibat serangan ulat jengkal adalah adanya lubang pada daun dan terdapat lipatan daun berlapis sutra dimana ulat bersembunyi. Jika tampak gejala tersebut pada daun tanaman kentang, petani bisa membasminya dengan cara kimiawi menggunakan Beta-cyfluthrin (Cakram 25 EC). Kemudian, agar hama jenis ulat jengkal tidak kembali menyerang, petani perlu menghindari penanaman tomat dekat tanaman inang lain dari hama ini atau memasang penghalang fisik (jaring nylon) di sekitar lahan cabai. Alternatif lain yang juga bisa diterapkan adalah melakukan penanaman tanaman Refugia.

Pengerek Daun/Umbi (Phthorimaea operculella)

Serangga penggerek daun atau umbi ini adalah hama utama perusak bibit-bibit tanaman kentang. Dalam proses penyerangannya, hama jenis ini akan membentuk pola gerekan pada daun dan tulang daun dan lipatan berwarna merah kecoklatan pada daun disertai jalinan benang dimana ulat bersembunyi. Akibatnya terjadi kerusakan pada umbi kentang saat penyimpanan dan tampak adanya kotoran ulat berwarna kecoklatan di permukaan kulit kentang. Bahkan jika kentang yang terserang dibelah, tampak lubang bekas ulat. Jika berbagai gejala tersebut terjadi, petani harus segera melakukan tindakan penanganan. Mulai dari menggunakan cara mekanis yaitu dengan  memangkas dan memusnahkan daun-daun yang terserang, penggunaan biokontrol berupa bacillus thuringiensis (Kitin SL, Turex WP), hingga dengan bantuan obat kimiawi seperti abamectin (Dimectin 18 EC), Lambda-Sihalotrin (Matador 25 CS), Profenofos (Curacron 500 EC).

Thrips (Thrips palmi)

Thrips merupakan jenis hama yang tergolong dalam kelompok kutu-kutuan. Thrips merusak tanaman kentang dengan cara menghisap cairan daun muda pada permukaan bawah daun. Fatalnya, hama ini juga berperan sebagai virus vektor yang menyebabkan tanaman kerdil dan tidak berkembang. Daun yang terserang thrips akan mengalami kerutan pada permukaan daun diikuti dengan perubahan warna daun karena klorosis. Jika serangan tergolong berat akan menyebabkan daun mengering. Langkah yang harus diambil oleh petani jika serangan thrips ini terjadi tidak jauh beda dengan penanganan pada hama penggerek daun. Hanya saja, pada alternatif kimiawi, petani bisa menggunakan Beta-siflutrin (Cakram 25 EC), Profenofos (Curacron 500 EC) Chlorfluazuron, dan Teflubenzuron. Sedangkan pada biokontrol, petani juga bisa melakukan Introduksi kutu predator (Amblyseus sp). Selanjutnya, dalam rangka pencegahan, petani perlu melakukan penyiangan gulma total sebelum penanaman kentang. Adapun alternatif lain yang bisa diterapkan adalah menggunakan Paper Trap berwarna biru atau putih (40 lembar/ha) atau emasang Mulsa Plastik Perak sebelum bibit ditanam.

Kutu daun (Myzus persicae)

Gejala yang ditimbulkan dari serangan kutu daun ini yaitu adanya bercak pada daun disertai dengan kerutan. Selain itu, akan dijumpai gerombolan kutu pada bagian bawah daun atau bagian tanaman lain. Jika serangan semakin berat seringkali disertai dengan infestasi semut dan embun jelaga (sooty mold). Jika gejala tersebut bermunculan, maka langkah strategis yang harus dilakukan petani adalah memangkas dan memusnahkan daun-daun yang terserang atau menggunakan alternatif lain, seperti bikontrol dengan introduksi serangga predator kutu daun (kumbang koksi/ladybug, serangga asasin) atau cara kimiawi menggunakan abamectin (Dimectin 18 EC), dan Deltametrin (Decis 25 EC). Agar, hama kutu daun tidak menyerang kembali, petani bisa menerapkan rekomendasi pencegahan berikut ini :

– Menanam tanaman refugia disekeliling lahan

– Menanam baris tanaman buffer (kenikir, tahikotok) setiap beberapa baris kentang

– Menanam Kentang dan Bawang daun secara tumpang sari

– Memasang Yellow Paper Trap (40 Lembar/ha)

Lalat pengorok daun (Liriomyza huidobrensis)

Hama jenis lalat penggorok daun pada tanaman kentang adalah hama yang berada pada fase larva dari lalat Liriomyza. Tanda adanya serangan hama ini akan tampak dari bintik-bintik pada daun dan liang korokan yang diikuti oleh mengeringnya daun. Untuk mengatasi penyebaran serangan hama ini, petani bisa segera melakukan pemangkasan dan memusnahkan daun-daun yang terserang. Adapun alternatif lain yang bisa diaplikasikan yaitu dengan menggunakan obat kimiawi berupa Abamectin (Dimectin 18 EC), dan biokontrol Bacillus thuringiensis (Kitin SL, Turex WP) Oleh karena itu, sangat penting bagi petani untuk mengetahui strategi penanganan dan pencegahan hama yang tepat dalam proses budidaya tanaman kentang. Selain itu, diperlukan sebuah alat atau system yang membantu petani dalam memantau kondisi dan perkembangan pertanian secara real time terutama dari serangan hama, tanpa harus mengelilingi lahan dan mengecek tanaman satu per satu. Alat dan sistem otomatis bisa didapatkan di KerabaTani Indonesia yang merupakan start up pertanian berbasis teknologi yang kini sedang mengembangkan teknologi pertanian guna meningkatkan efektivitas dan efisiensi aktivitas pertanian. Beberapa produk teknologi pertanian KerabaTani adalah Zenbox, drone, dan beberapa alat lainnya yang bisa melakukan pemantauan secara otomatis berbasis android. Informasi lengkap mengenai produk tersebut bisa diakses di http://kerabatani.com/produk/. Website ini akan membantu petani Indonesia dalam mengatasi permasalahan di lapangan dan mengenal lebih jauh tentang KerabaTani Indonesia. Adanya produk pertanian berbasis teknologi ini, diharapkan mampu mendukung digitalisasi pertanian di Indonesia sehingga mampu menciptakan petani yang cerdas dan pertanian yang berkelanjutan.

Leave a Reply