Jangan Khawatir ! Terapkan Rekomendasi ini Jika Tanaman Selada Anda Terserang Cendawan
Selada Photo by Pezibear from Pixabay

Jangan Khawatir ! Terapkan Rekomendasi ini Jika Tanaman Selada Anda Terserang Cendawan

Sumber : pikiran-rakyat.com

Organisme Penganggu Tanaman (OPT) memang menjadi musuh utama petani dalam budidaya tanaman selada. Untuk memberantasnya, petani harus berupaya mencari berbagai alternative pengendalian dan tindakan antisipatif agar OPT tidak menyerang secara berkelanjutan. Karen ajika dibiarkan, maka populasi OPT akan meningkat dan berdampak buruk terhadap kualitas dan produktivitas tanaman. Akibatnya, petani mengalami kerugian besar, terlebih selada merupakan jenis tanaman sayur yang banyak diminati oleh konsumen.

Cendawan adalah salah satu OPT penyerang tanaman selada kerap meresahkan petani. Berikut ini beberapa jenis cendawan pada selada beserta gejala dan cara pengendaliannya :

Busuk Akar (Rhizoctonia sp.)

Sesuai dengan namanya, penyakit yang disebabkan oleh cendawan Rhizoctonia sp. Ini menyebabkan pembusukan pada jaringan akar, akibatnya tanaman menjadi layu. Untuk mengatasi penyakit ini, petani bisa mengunakan cara kimiawi melalui Fungisida Kontak menggunakan Mankozeb, Fungisida Sistemik menggunakan Mefenoxan, Carbendazim, Metalaxyl. Cara lain yang bisa diterapkan adalah biopestisida menggunakan Ekstrak Biji Mimba (50g/L), Ekstrak Daun Mimba (100 g/L), Ekstrak Daun Srikaya. Selanjutnya, untuk mencegah serangan lanjutan dari cendawan Rhizoctonia sp, petani bisa melakukan solariasi yaitu dengan menutup lahan dengan plastik polietilen selama 6 minggu sebelum tanam.

Rebah Kecambah/ Damping Off (Phytium sp., Rhizoctonia solanii)

Selada yang terserang penyakit rebah kecambah ditandai dengan gejala pertumbuhan kecambah yang tidak normal, batang lemah dan mudah rebah, serta terjadinya pembusukan pada lapisan korteks akar utama dan pangkal batang menjadi berwarna kecoklatan. Jika beberapa gejala tersebut sudah tampak pada tanaman selada, petani bisa mengendalikannya dengan dua cara dibawah ini:

  • Kimiawi yaitu menggunakan :
    • Fungisida Kontak :Mankozeb (0,2%)
    • Fungisida Sistemik : Mefenoxan (0,2%) Carbendazim, Metalaxyl (0,5%)
  • Biopestisidamenggunakan Ekstrak Biji Mimba, Ekstrak Daun Mimba, Ekstrak Daun srikaya, dan Ekstrak bawang putih.

Selanjutnya, sebagai langkah antisipasi, petani bisa merendam  benih selada dalam larutan propamocarb hydrochloride (Previcur N) dengan konsentrasi 0,1% selama 2 jam.

Bercak Daun (Cercospora janseane (Racib) O. Const.)

Awal serangan bercak daun pada tanaman selada ditandai dengan bercak kecil berair (basah) di tepi daun. Bercak kecil tersebut berwarna kelabu gelap dan meluas dengan cepat sampai di tulang daun. Di dalam bercak terdapat cincin-cincin sepusat. Untuk mengatasinya, petani bisa langsung memotong daun yang terserang penyakit. Jika cara mekanis ini kurang efektif, petani bisa menggunakan alternative biocontrol dengan bantuan cendawan antagonis atau biopestisida menggunakan Ekstrak Mimba, Ekstrak Biji Mimba. Selain itu, petani juga perlu menghindari penanaman dekat tanaman inang untuk mencegah serangan tingkat lanjut dan dampak yang lebih serius.

Oleh karena itu, sangat penting bagi petani untuk mengetahui strategi penanganan dan pencegahan hama yang tepat dalam proses budidaya tanaman selada. Selain itu, diperlukan sebuah alat atau system yang membantu petani dalam memantau kondisi dan perkembangan pertanian secara real time terutama dari serangan hama, tanpa harus mengelilingi lahan dan mengecek tanaman satu per satu. Alat dan sistem otomatis bisa didapatkan di KerabaTani Indonesia yang merupakan start up pertanian berbasis teknologi yang kini sedang mengembangkan teknologi pertanian guna meningkatkan efektivitas dan efisiensi aktivitas pertanian. Beberapa produk teknologi pertanian KerabaTani adalah Zenbox, drone, dan beberapa alat lainnya yang bisa melakukan pemantauan secara otomatis berbasis android. Informasi lengkap mengenai produk tersebut bisa diakses di http://kerabatani.com/produk/. Website ini akan membantu petani Indonesia dalam mengatasi permasalahan di lapangan dan mengenal lebih jauh tentang KerabaTani Indonesia. Adanya produk pertanian berbasis teknologi ini, diharapkan mampu mendukung digitalisasi pertanian di Indonesia sehingga mampu menciptakan petani yang cerdas dan pertanian yang berkelanjutan

Leave a Reply