Menggunakan Tanah Yang Telah Dipupuk, Simak Cara Pengolahan Tanah Untuk Menanam Bawang Merah!
Bawang Merah Photo by myfox8.com

Menggunakan Tanah Yang Telah Dipupuk, Simak Cara Pengolahan Tanah Untuk Menanam Bawang Merah!

Budidaya bawang merah menjadi salah satu peluang usaha yang menjanjikan di Indonesia, hal ini karena bawang merah merupakan salah satu bahan dapur yang wajib ada di setiap rumah masyarakat Indonesia. Bawang merah juga dapat meningkatkan kesehatan karena kandungan vitamin C, B6, B9, yang berguna untuk mengoptimalkan penyerapan zat besi, membantu pembentukan sel darah merah, dan lainnya. Kelebihan lain dari usaha budidaya bawang merah yaitu daya tahan bawang merah yang mampu bertahan hingga lebih dari 2 bulan sejak dipanen, dan masih aman konsumsi meski tidak disimpan dalam lemari es atau wadah khusus.

Pada dasarnya, pembudidayaan bawang merah cukup mudah untuk dilakukan. Bawang merah akan tumbuh dengan baik apabila ditanam di dataran rendah sampai dengan ketinggian optimum adalah 0-450 mdpl. Tanaman bawang merah peka terhadap curah hujan dan intensitas hujan yang tinggi serta cuaca berkabut. Setelah memenuhi keadaan tersebut, hal selanjutnya yang perlu dilakukan para petani bawang merah adalah pengolahan tanah. Tanah yang paling cocok untuk tanaman bawang merah adalah tanah Aluvial atau kombinasi dengan tanah Glei-Humus atau Latosol.

Pada lahan kering, tanah dibajak atau dicangkul sedalam 20 cm, kemudian dibuat bedengan-bedengan dengan lebar 1,2 meter, tinggi 25 cm, sedangkan panjangnya tergantung pada kondisi lahan. Sedangkan pada lahan bekas padi sawah atau bekas tebu, bedengan-bedengan dibuat terlebih dahulu dengan ukuran lebar 1,75 cm, kedalaman parit 50 – 60 cm dengan lebar parit 40 – 50 cm dan panjangnya disesuaikan dengan kondisi lahan. Kondisi bedengan selalu mengikuti arah Timur dan Barat.

Tanah yang telah diolah dibiarkan sampai kering kemudian diolah lagi 2 – 3 kali sampai gembur sebelum dilakukan perbaikan bedengan-bedengan dengan rapi. Waktu yang diperlukan mulai dari pembuatan parit, pencangkulan tanah sampai tanah menjadi gembur dan siap untuk ditanami adalah sekitar 3 – 4 minggu. Pada lahan yang masam dengan pH kurang dari 5,6, dilakukan pemberian kaptan/dolomit minimal 2 minggu sebelum tanam dengan dosis 1 – 1,5 t/ha/tahun.

Setelah lahan selesai diolah, dilakukan pemberian pupuk dasar yaitu pupuk organik yang sudah matang seperti pupuk kandang sapi dengan dosis 10 – 20 t/ha atau pupuk kandang ayam dengan dosis 5-6 t/ha, atau kompos dengan dosis 4-5 t/ha khususnya pada lahan kering. Selain itu, pupuk P (SP-36) dengan dosis 200-250 kg/ha (70 – 90 kg P2O5/ha), yang diaplikasikan 2-3 hari sebelum tanaman dengan cara disebar lalu diaduk secara merata dengan tanah.

Tertarik dengan info seputar pertanian lainnya?

Kunjungi website www.kerabatani.com sekarang juga !

Dijamin kalian akan menemukan tips & trick menarik yang akan menuntun kalian untuk bertani menggunakan teknologi canggih dan produk – produk berkualitas dari KerabaTani.

Leave a Reply