Panen 25 ton/Ha, Padi HMS, Benih Padi Unggul Mitra KerabaTani Indonesia : Prof. Hariyadi, M.P.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bondowoso melakukan panen perdana padi unggul lokal varietas HMS 400, di Desa Suger Lor, Kecamatan Maesan pada, Rabu (15/7) yang di hadiri Kementrian Desa, PDT, dan Transmigrasi melalui Staff Ahli Mentri Bidang Hubungan antar Lembaga, DR. Suprapedi, M.Eng,.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Wakil Bupati H Irwan Bachtiar Rahmat, Komandan Kodim 0822 Letkol Inf. Jadi, Kapolres Bondowoso AKBP Erick Frendriz, Sekretaris Daerah H Syaifullah, Direktur LPMM, serta sejumlah kepala OPD, Camat, dan PPL setempat.

Padi varietas baru itu merupakan pengembangan varietas unggul lokal atas inisiasi LPMM (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Mandiri) Bondowoso bersama Pemerintah Kabupaten setempat. Sebagai pilot project, pengembangannya telah dilakukan di Desa Suger Lor.

Bupati Bondowoso Drs KH Salwa Arifin menjelaskan, bahwa HMS 400 merupakan padi yang memiliki potensi besar untuk mendongkrak perekonomian petani. Sebab, dalam satu hektar lahan bisa menghasilkan 8 hingga 9 ton gabah.

Bupati Salwa ingin agar padi jenis tersebut tidak hanya ditanam oleh Desa Suger Lor, melainkan juga dikembangkan oleh Desa-desa lain utamanya di Kecepatan Maesan.

“Saya ingin agar HMS 400 ini juga dikembangkan oleh Desa lain,” harap Bupati Salwa.

Lebih lanjut, Bupati Salwa Arifin menjelaskan, pengembangan padi varietas lokal HMS 400 ini merupakan upaya peningkatan produksi padi di Bondowoso. Adapun, varietas unggul lokal ini disebutnya memiliki karakteristik umur pendek, produktivitas tinggi, dan tahan terhadap serangan hama.

“Saya informasikan masyarakat Bondowoso ini mayoritas bertani. Sekitar 60 persen bertani. Makanya disini perlu mendapatkan perhatian dari Kemendes, yaitu pengembangan padi varietas HMS 400,” pungkasnya.

Sementara itu, Staf Ahli Kementerian PDTT, Dr. Suprapedi, M.Eng, mengapresiasi pengembangan padi jenis baru tersebut. Menurutnya, ketika padi tersebut benar-benar terus dikembangkan, Ia berharap manajemen dan pangsa pasarnya juga harus diperhatikan. Artinya, produsen, distributor hingga konsumennya harus jelas agar siklus pertaniaannya berjalan dengan lancar.

“Satu kali panen terjual. Kemudian menanam lagi. Itu kan siklusnya. Makanya marketingnnya juga perlu difasilitasi,” jelasnya.

Terlebih kata dia, berdasarkan diskripsi yang diterangkan menunjukkan bahwa padi tersebut memiliki sejumlah keunggulan yang baik bagi petani. Akan hal itu, Suprapedi meminta agar replikasinya tidak hanya dilakukan di desa sebelah selatan Bondowoso itu.

“Ini perlu direplikasi tidak hanya di Suger lor saja,” pintanya.

Di sisi lain, pihaknya mengharapkan akan pentingnya untuk mulai mempersiapkan chanelling dan management industri yang baik. Karena, nantinya saat petani telah konsisten menanam, perlu diikuti dengan market yang sudah jelas. Karena itu perlu, menyiapkan jembatan dari hulu hingga ke market. “Management industri dalam berproduksi. Sehingga market ini merasa tenang bahwa akan disupplay terus. Itu yang harus kita berikan chanelling,” tutupnya. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *