<strong>Tahukah Kamu? Inilah Berbagai Jenis Serangga Penyerang Tanaman Kangkung</strong>
PHOTO-BY-PIXYDOTORG

Tahukah Kamu? Inilah Berbagai Jenis Serangga Penyerang Tanaman Kangkung

Sumber: teorieno.com

Kangkung merupakan jenis tanaman budidaya yang banyak diminati oleh masyarakat. Selain karena harganya yang murah dan mudah didapatkan, kangkung ternyata juga mengandung banyak sekali manfaat bagi kesehatan tubuh. Terutaman dalam hal mengatasi penyakit diabetes. Tentu tingginya kebutuhan kangkung di pasaran juga memicu minat para petani untuk budidaya tanaman kangkung. Walaupun perawatannya terhitung mudah, namun petani harus tetap konsisten untuk melakukannya agar menghasilkan kangkung yang baik dan berkualitas. Selain perawatan, petani juga perlu melakukan pengawasan secara berkala, terutama terhadap hama dan penyakit yang rentan menyerang tanaman kangkung. Salah satunya adalah hama serangga. Berikut beberapa jenis serangga penyerang tanaman kangkung yang wajib diketahui oleh petani :

  1. Belalang (Valanga nigricornis)

Tanaman kangkung yang terserang belalang adalah terdapat bekas gigitan bersih yang biasanya berbentuk lingkaran. Untuk mengatasinya, petani bisa langsung menangkap dan membunuhnya. Namun, jika serangga dalam jumlah besar, petani bisa menggunakan cara kimiawi berupa insektisida Fastac 15 EC atau penyemprotan dengan senyawa organofosfat dilakukan jauh sebelum panen. Selanjutnya, sebagai langkah pencegahan, petani bisa menanam tanaman refugia (kenikir, tahikotok, bunga matahari) untuk mengundang serangga predator atau menggunakan pengendalian terpadu dengan ayam.

  • Ulat keket/ Jedung (Acherontia lacheis F.)

Ulat keket lebih suka memakan daun tanaman kangkung hingga berlubang dan akhirnya rusak. Serangan dari ulat keket ini bisa diatasi dengan menggunakan larutan WT Bvr dengan dosis 10 ml/ liter air, WT Trico/ Glio dengan dosis 10 ml/ lt air, WT Ajuvant WT dengan dosis 2 ml/ lt air. Selain itu, petani juga perlu memberikan  jarak tanam yang lebih lebar dan melakukan rotasi tanaman untuk mencegah serangan lebih lanjut dari serangga ini.

  • Ulat Grayak (Spodoptera litura F)

Tanda-tanda serangan ulat grayak mirip dengan belalang, yaitu adanya bekas gigitan serangga yang mengakibatkan daun berlubang dan pinggiran bergerigi tidak merata. Ada dua alternative cara penanganan terhadap hama ulat grayak ini. Pertama, petani bisa menggunakan biokontrol seperti Parasitoid (Trichogramma sp) dan Virus SlNPV. Kedua, petani juga bisa menggunakan cara kimiawi seperti insektisida Diazinon 60 EC dengan dosis 2 cc/lt air dan disemprotkan ke tanaman (saat penyemprotan, lahan dikeringkan terlebih dahulu kemudian baru diberi air setelah 4-5 hari dari penyemprotan). Untuk meningkatkan keamanan tanaman kangkung dari serangan ulat grayak, petani perlu memasang Pheromone trap di sekitar kebun (Fero Grayak & Feromon exi) dan melakukan rotasi tanaman secara berkala.

  • Kutu Daun (Aphis gossypii atau Myzus persicae Sulz)

Tanaman kangkung yang terserang serangga jenis kutu daun ini memiliki gejala yang lebih bervariasi. Adanya serangan bisa dilihat dari adanya koloni kutu daun yang teramati di bawah daun. Biasanya diikuti oleh infestasi semut pada tanaman (serangan berat). Selain itu, daun juga mulai mengeriting dan menyempit di sekitar tulang daun. Serta tanaman menjadi kerdil dengan kondisi daun menggulung. Untuk mengatasinya, ada 3 alternatif yang bisa diterapkan oleh petani, antara lain :

  • Cara mekanis dengan memangkas dan memusnahkan daun yang terserang
  • Alternatif biokontrol dengan menerapkan Introduksi serangga predator kutu daun (kumbang koksi/ladybug, assassin bug)
  • Cara kimiawi melalui penggunaan insektisida ambush 2 EC/Chmbush 50 EC dengan dosis 1-2 ml/air

Selain melakukan penanganan, petani juga perlu melakukan tindakan pencegahan melalui penanaman refugia di sekitar lahan dan pemasangan Yellow Paper Trap (40 trap/ha). Pencegahan ini perlu dilakukan agar hama kutu daun tidak kembali menyerang tanaman.

  • Thrips (Thrips palmi)

Serangan hama thrips dapat dikenali dari adanya  kerutan pada permukaan daun diikuti dengan perubahan warna daun karena klorosis. Selanjutnyam daun akan mengering jika serangan sudah masuk dalam kategori berat. Cara mengatasinya, petani bisa menerapkan 3 rekomendasi berikut ini :

  • Cara mekanis yaitu memangkas dan memusnahkan daun yang terserang
  • Cara kimiawi melalui penggunaan Abamectin (Dimectin 18 EC), Beta-siflutrin (Cakram 25 EC), Profenofos (Curacron 500 EC) Chlorfluazuron, Teflubenzuron
  • Cara biocontrol dengan menggunakan hewan golongan Coleoptera tertentu, Coccinella dan dari keluarga Miridae atau introduksi kutu predator (Amblyseus sp)

Selanjutnya, agar hama tidak melakukan penyerangan kembali dan menyebabkan dampak yang lebih fatal, maka petani juga perlu melakukan beberapa rekomendasi langkah pencegahan berikut ini :

–  Penyiangan gulma total sebelum penanaman

–  Menggunakan Paper Trap berwarna biru atau putih (40 lembar/ha)

–  Memasang Mulsa Plastik Perak sebelum bibit ditanam

  • Kumbang daun (Epilachna spp.)

Sesuai dengan namanya, hama ini cenderung menyerang pada bagian daun tanaman. Daun yang terserang akan menjadi rusak dan biasanya terdapat lubang-lubang bekas gigitan kumbang daun. Pada serangan yang lebih parah, hama hanya akan menyisakan urat daun. Adapun cara mengatasinya, petani bisa menangkap dan membunuh kumbang daun secara langsung atau menggunakan cara kimiawi berupa Insektisida 2,5 E.C kosentrasi 0,5-1,0 ml/l. Selain itu, untuk meningkatkan keamanan tanaman dari serangan kumbang daun, petani juga perlu melakukan kontrol lahan pada sore hari karena kumbang daun mulai aktif pada senja hingga malam hari dan menggemburkan tanah di pagi hari.

Oleh karena itu, sangat penting bagi petani untuk mengetahui strategi penanganan dan pencegahan hama yang tepat dalam proses budidaya tanaman kangkung. Selain itu, diperlukan sebuah alat atau system yang membantu petani dalam memantau kondisi dan perkembangan pertanian secara real time terutama dari serangan hama, tanpa harus mengelilingi lahan dan mengecek tanaman satu per satu. Alat dan sistem otomatis bisa didapatkan di KerabaTani Indonesia yang merupakan start up pertanian berbasis teknologi yang kini sedang mengembangkan teknologi pertanian guna meningkatkan efektivitas dan efisiensi aktivitas pertanian. Beberapa produk teknologi pertanian KerabaTani adalah Zenbox, drone, dan beberapa alat lainnya yang bisa melakukan pemantauan secara otomatis berbasis android. Informasi lengkap mengenai produk tersebut bisa diakses di http://kerabatani.com/produk/. Website ini akan membantu petani Indonesia dalam mengatasi permasalahan di lapangan dan mengenal lebih jauh tentang KerabaTani Indonesia. Adanya produk pertanian berbasis teknologi ini, diharapkan mampu mendukung digitalisasi pertanian di Indonesia sehingga mampu menciptakan petani yang cerdas dan pertanian yang berkelanjutan

Leave a Reply