Tanaman Kubis Anda Terserang Cendawan? Begini Cara Pengendalian dan Pencegahannya !
kubis

Tanaman Kubis Anda Terserang Cendawan? Begini Cara Pengendalian dan Pencegahannya !

Kubis merupakan tanaman sayuran sekaligus sumber gizi yang banyak dibudidayakan oleh petani. Kubis dikatakan sebagai sumber gizi karena memang mengandung berbagai vitamin, mineral, dan serat yang baik bagi kesehatan tubuh. Untuk menghasilkan kubis yang berkualitas dan baik untuk dikonsumsi, petani harus mengetahui cara budidaya kubis beserta perawatannya. Terutama dalam hal pencegahan terhadap hama dan penyakit. Salah satu Jenis hama yang kerap menyerang tanaman kubis adalah jamur (cendawan). Akibatnya, timbul penyakit yang berpotensi mengganggu pertumbuhan hingga menggagalkan panen. Berikut beberapa jenis jamur (cendawan) yang menyerang tanaman kubis :

Peronospora parasitica

Peronospora parasitica atau biasa disebut ospora adalah jenis parasite obligat yang menyebabkan penyakit tepung berbuluh. Ospora berbentuk bulat dengan garis tengah berukuran 26-43 μm dan terbungkus oleh lipatan berbincul-bincul. Keunggulannya, jamur opsora memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi, sehingga mampu hidup di semua musim di Indonesia. Ciri tanaman kubis yang terserang jamur ospora ini adalah timbul bercak berwarna coklat-keunguan pada permukaan bawah daun. Selain itu, pada sisi atas daun terlihat jaringan antara tulang daun yang menguning. Untuk mengatasinya, petani bisa menggunakan Fungisida Previcur-N (1 ml/L); Dithane M-45 80 WP (2 g/L) agar jamur ospora tidak menimbulkan dampak yang fatal. Selanjutnya, sebagai langkah pencegahan, petani bisa melakukan sterilisasi tanah dengan uap air panas selama dua sampai tiga jam pada saat pengolahan tanah persemaian dan menggunakan pupuk kandang yang sudah matang.

Plasmodiophora brassicae

P. brassicae merupakan cendawan tingkat rendah dari kelas Plasmodiophoramycetes. Pada umumnya, jamur ini berbentuk bulat atau agak lonjong berukuran (1,6 x 4,3) – (4,6 x 6,0) mikron, berduri atau berambut pendek. Sporangium berdiameter 6,0 – 6,5 mikron. Zoospora berdiameter 1,9 – 3,1 mikron dan mempunyai 2 flagela. Perkembangan P. brassicae dipengaruhi oleh faktor lingkungan, antara kelembahan tanah, suhu, intensitas cahaya, dan kemasaman tanah. Bahkan infeksi pathogen ini akan meningkat pada kondisi tanah yang masam. Akibatnya, P. brassicae akan menimbulkan penyakit akar gada yang merupakan pembengkakan pada jaringan akar dan berpotensi mengganggu fungsi akar seperti translokasi zat hara dan air dalam tanah ke daun. Tanaman kubis yang terserang penyakit ini memiliki ciri daunnya layu seperti kekurangan air namun pada malam hari atau pagi hari akan menjadi segar kembali, tidak dapat membentuk krop serta pertumbuhan tanaman terhambat. Cara mengatasinya, petani bisa menggunakan pupuk urea, TSP, KCl secara bersamaan pada tanaman kubis. Namun, tidak cukup hanya itu. Petani juga perlu melakukan tindakan pencegahan untuk menghindari serangan lebih lanjut oleh jamur P. brassicae, diantaranya seperti :

  • Melakukan perendaman tanah
  • Hindari menggunakan Boron
  • Melakukan pergiliran tanaman
  • Menjaga agar drainase tetap baik

Oleh karena itu, sangat penting bagi petani untuk mengetahui strategi penanganan dan pencegahan hama yang tepat dalam proses budidaya tanaman kubis. Selain itu, diperlukan sebuah alat atau system yang membantu petani dalam memantau kondisi dan perkembangan pertanian secara real time terutama dari serangan hama, tanpa harus mengelilingi lahan dan mengecek tanaman satu per satu. Alat dan sistem otomatis bisa didapatkan di KerabaTani Indonesia yang merupakan start up pertanian berbasis teknologi yang kini sedang mengembangkan teknologi pertanian guna meningkatkan efektivitas dan efisiensi aktivitas pertanian. Beberapa produk teknologi pertanian KerabaTani adalah Zenbox, drone, dan beberapa alat lainnya yang bisa melakukan pemantauan secara otomatis berbasis android. Informasi lengkap mengenai produk tersebut bisa diakses di http://kerabatani.com/produk/. Website ini akan membantu petani Indonesia dalam mengatasi permasalahan di lapangan dan mengenal lebih jauh tentang KerabaTani Indonesia. Adanya produk pertanian berbasis teknologi ini, diharapkan mampu mendukung digitalisasi pertanian di Indonesia sehingga mampu menciptakan petani yang cerdas dan pertanian yang berkelanjutan.

Leave a Reply