Tidak Lagi Asal-Asalan, Begini Pemanenan dan Pasca Panen Bawang Putih
Bawang Putih

Tidak Lagi Asal-Asalan, Begini Pemanenan dan Pasca Panen Bawang Putih

Bawang putih (Allium sativum) termasuk salah satu bumbu masakan yang paling popular digunakan di Indonesia. Selain sebagai bumbu masakan, bawang putih mempunyai beragam manfaat lain seperti dapat dihunakan sebagai obat tekanan darat tinggi, reumatik, sakit gigi, dan masih banyak lagi. Tanaman bawang putih dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah. Namun, tanah yang disukai adalah tipe tanah yang bertekstur lempung berpasir dengan struktur tanah gembur, dengan pH 5,5-7.

Saat ini, petani bisa dengan mudah mengukur pH tanah menggunakan teknologi yang dikembangkan oleh KerabaTani. Teknologi Connect akan terhubung dengan mobile system dimana nantinya monitoring dapat dilihat melalui smartphone yang telah terhubung. Teknologi ini juga dilengkapi dengan enam sensor untuk melihat kelembaban udara, kelembaban tanah, suhu udara, intensitas cahaya, unsur pH tanah dan suhu tanah.

Pemanenan dan Perawatan Pascapanen Bawang Putih yang Baik dan Benar

Pemanenan

Panen dilakukan ketika bawang putih sudah menunjukkan ciri masak panen optimal yakni ada perubahan warna tangkai daun dari hijau segar menjadi kekuningan. Bawang putih yang akan dipanen harus mencapai cukup umur, hal ini tergantung pada varietas dan daerah penanaman. Umumnya bawang putih dapat dipanen pada umur 4 bulan setelah tanam atau sekitar 90-120 hari. Umbi bawang putih siap panen akan mulai mengeras dan umbi mulai keluar keatas permukaan tanah. Sebelum pemanenan dilakukan dianjurkan untuk melakukan penyiraman sehari sebelum panen pada pagi hari dan pada sore hari dilakukan penggemburan lahan. Cara pemanenannya yaitu tanaman bawang putih dicabut dengan hati-hati untuk menghindari adanya umbi yang patah Tanaman bawang putih yang telah dicabut kemudian diikat sebanyak 30 tangkai dan dikumpulkan ditempat yang teduh.

Pascapanen

Perlakuan pascapanen untuk tanaman bawang putih terdiri atas penyortiran, pengeringan dan penyimpanan.

  1. Penyortiran

Proses penyortiran dan penggolongan sortasi dilakukan pemotongan akar dan daun hingga hanya tersisa pangkal batang semu sepanjang 2 cm. Ukuran atau kriteria sortasi umbi bawang putih yaitu sebagai berikut.

  • Keseragaman warna menurut jenis
  • Umur umbi
  • Tingkat kekeringan
  • Kekompakan susunan siung
  • Bebas hama penyakit
  • Bentuk umbi (bulat/lonjong)
  • Ukuran besar kecilnya umbi
  • Berdasarkan ukuran umbi, bawang putih dapat dikelompokkan menjadi beberapa kelas yakni:
  • Kelas A: Umbi yang diameternya lebih dari 4 cm
  • Kelas B: Umbi yang diameternya antara 3-4 cm
  • Kelas C: Umbi yang dameternya antara 2-3 cm
  • Kelas D: Umbi yang kecil atau yang pecah atau rusak
  • Pengeringan

Pengeringan bawang putih dapat dilakukan dengan dikeringkan langsung dibawah sinar matahari dengan posisi bagian umbi ditutup daunnya atau dihamparkan diatas lantai penjemuran atau tanah yang telah dialasi anyaman bambu atau digantung pada palang bambu. Pengeringan juga dapat dilakukan di udara terbuka pada tempat yang teduh atau di dalam ruangan baik. Teknik pengeringan lainnya dapat menggunakan alat pengering tenaga surya tipe IDAHO (alat pengering mekanis). Bawang putih yang dikeringkan dapat dalam bentuk masih lengkap dengan batang dan daun, namun dapat pula hanya umbinya. Lama pengeringan sekitar 10-15 hari.

  • Penyimpanan

Penyimpanan dalam jumlah kecil dapat dilakukan dengan cara digantung ikatan bawang putih diatas para-para yang dibuat dari kayu atau bambu dengan setiap ikatan memiliki berat sekitar 2 kg. Penyimpanan dalam jumlah besar dapat dilakukan di dalam gudang yang mempunyai ventilasi dan suhu sekitar 25-30C serta kelembaban 60-70%.

Leave a Reply