<strong>Waspadai Beragam Jenis Serangga Penyerang Tanaman Ubi Jalar dan Atasi dengan rekomendasi ini !</strong>

Waspadai Beragam Jenis Serangga Penyerang Tanaman Ubi Jalar dan Atasi dengan rekomendasi ini !

Sumber : sehatq.com

Organisme Penganggu Tanaman (OPT) merupakan musuh utama para petani dalam budidaya tanaman. Keberadaan OPT sangat merugikan petani karena berpotensi menurunkan produktivitas tanaman dan mempengaruhi kualitas buah sebagai produk pertanian. Serangga adalah salah satu OPT yang kerap menyerang berbagai jenis tanaman budidaya. Tak terkecuali ubi jalar. Jika petani tidak melakukan perawatan rutin dan pengawasan yang ketat terhadap serangan hama, maka akan berpotensi merusak tanaman dan dapat merugikan petani. Oleh karena itu, pengetahuan seputar jenis-jenis hama beserta gejala dan pengendaliannya menjadi hal penting yang perlu diperhatikan Perlu diketahui, berikut ini beberapa jenis serangga penyerang tanaman ubi jalar :

Kumbang Ubi Jalar (Cylas formicarius)

Sumber : cybex.pertanian.go.id

Gejala adanya serangan kumbang ubi jalar adalah terdapat lubang gerekan pada bagian daun, batang, dan umbi. Larva juga menggerek dan makan dalam batang dan umbi yang dicirikan dengan adanya kotoran yang ditimbun di sekitar lubang gerekan dan bau yang khas. Untuk mengatasinya, petani bisa melakukan pencelupan stek yang dilanjutkan dengan penyemprotan agen hayati Beauveria bassiana atau menggunakan insektisida permetrin, karbofuran dan karbosulfan. Untuk menghindari serangan tingkat lanjut dari kumbang ubi jalar, petani perlu melakukan rotasi tanaman dengan tanaman bukan inang akan memutus siklus kumbang. Sanitasi lahan juga penting dilakukan untuk membersihkan dari sisa-sisa umbi atau batang yang terserang. Tak lupa pengairan lahan secara rutin agar tanah tidak retak dan mudah dimasuki kumbang.

Penggerek Batang (Omphisia anastomasalis)

Sumber : kabartani.com

Sesuai dengan namanya, hama penggerek batang menyerang pada bagian batang utama dan terkadang masuk kedalam umbi. Serangan larva ditandai dengan batang layu dan akhirnya mati karena adanya lubang gerekan dalam batang. Tanda lainnya adalah terdapat kotoran larva didekat batang yang terserang. Jika tanda tersebut sudah tampak pada tanaman ubi jalar, petani harus segera mengatasinya dengan menggunakan predator alami seperti cecopet dan semut atau parasitoid dari famili Encyrtidae (Himenoptera). Selanjutnya, sebagai langkah pencegahan, petani bisa menanam stek yang terbebas dari telur penggerek melalui seleksi stek yang ketat dan melakukan sanitasi lahan dengan cara membersihkan lahan dari pupa penggerek dan sisa ubi jalar setelah panen.

Kumbang Daun Kura-kura (Aspidomorpha miliaris)

Sumber : bobo.grid.id

Tanaman ubi jalar yang terserang hama kumbang daun kura-kura dapat dilihat dari adanya membran tembus pandang berwarna pucat atau coklat. Bahkan, daun akan berlubang jika serangga tergolong dalam larva instar tua. Akibatnya terjadi defoliasi total pada tanaman. Jika hal ini terjadi, maka pengendalian yang bisa dilakukan oleh petani adalah dengan menggunakan agen hayati berupa parasit telur dan larva seperti Tetrastichus sp., Eulophidae, Chalcidae dan predator alami berupa Stalilia sp dan Mantidae. Tidak cukup hanya itu, petani juga perlu melakukan sanitasi gulma disekitar tanaman terutama dari famili Convolvulaceae yang merupakan inang kumbang kura-kura yang mengurangi populasi kumbang.

Penggulung Daun (Braxhmia convolvuli Wals)

Sumber : blog.ub.ac.id

Sesuai dengan namanya, serangga ini akan menyebabkan daun menggulung dan tampak jaring-jaring berwarna putih. Areal daun yang telah terserang biasanya akan berubah warna menjadi coklat dan dikotori dengan kotoran berwarna kehitaman. Bahkan, serangan hama penggulung daun ini seringkali hanya menyisakan epidermis permukaan bawah daun. Jika gejala ini sudah tampak, maka petani harus segera memotong dan membuang daun yang terserang. Apabila serangan tinggi, petani bisa menyemprotkan insektisida sistemik pada tanaman ubi jalar. Untuk mencegah serangan kembali, petani perlu menghindari penanaman

ubi jalar didekat inang lainnya dari hama ini seperti Ipomoea triloba  dan I. aquatica. Selain itu, petani juga perlu melakukan peningkatan intensitas penyiangan gulma terutama gulma Mikania cordata.

Kutu Kebul (Bemisia tabaci)

Sumber : kompasiana.com

Serangga kutu kebul menyerang bagian daun tanaman. Serangga muda dan dewasa akan mengisap cairan daun, sehingga menyebabkan noda kuning pada permukaan daun bagian atas. Serta terdapat pigmentasi ungu yang menimbulkan noda berwarna ungu. Untuk mengatasinya, ada 3 cara penanganan yang bisa diterapkan oleh petani, antara lain :

  • Mekanis yaitu dengan melakukan pengumpulan dan pemusnahan daun dan pucuk tanaman yang terserang kutu kebul pada saat awal serangan.
  • Kimiawi melalui penyemprotan insektisida nabati dari rendaman daun dan serbuk biji mimba 50 g/L dapat mengusir kutu kebul secara efektif.
  • Biokontrol dengan menggunakan beberapa musuh alami yakni kumbang helm, sayap jala, larva lalat bunga, dan parasit dari ordo Himenoptera.

Selanjutnya, untuk mencegah adanya serangan tingkat lanjut dari hama kutu kebul, petani perlu menerapkan budidaya tanaman sehat melalui penanaman stek pucuk yang sehat, pemupukan berimbang dan pemantauan lahan secara rutin.

Uret/Lundi (Anomala cuprea)

Sumber : ilmubudaya.com

Larva hidup di dalam tanah dan menyerang atau memakan daun umbi. Serangan ini menyebabkan umbi lebih cepat mengalami pembusukan. Cara penanganan yang bisa dilakukan petani adalah dengan mengambil dan mengumpulkan uret dan memasang lampu perangkap dengan tempat penampungan yang diberi air sabun. Selain itu, petani juga bisa mencoba alternative lain menggunakan jamur Metarrhizium anisopliae. Untuk menghindari adanya serangan baru dari uret/lundi, berikut ini ada beberapa rekomendasi pencegahan yang bisa diterapkan, antara lain :

  • Melakukan rotasi tanaman bukan inang akan memutus siklus hama.
  • Tanam serempak.
  • Sanitasi lahan.
  • Membajak dan menggaru lahan yang dalam dua kali sebelum tanam untuk memaparkan telur dan lundi/uret ke pemangsa dan sinar matahari.
  • Perendaman lahan selama 48 jam

Ulat Daun (Spodoptera litura)

Sumber : pestcontroljakarta.com

Sesuai dengan namanya, ulat daun menyerang pada bagian daun tanaman. Perlu diketahui, bahwa ulat daun memiliki beberapa jenis instar. Ulat instar 1 akan memakan epidermis daun bagian atas, sehingga daun-daun yang terserang dari jauh terlihat berwarna putih. Sedangkan ulat instar IV dan V memakan seluruh bagian daun kecuali tulang daun. Cara paling mudah untuk memberantas hama ulat daun ini adalah dengan mengambil dan mengumpulkan kelompok telur, ulat yang baru menetas dan ulat yang berukuran besar kemudian membakarnya. Atau petani juga bisa mencoba alternative biocontrol dengan menggunakan

Nomuraea riliyi dan Borrelinavirus litura serta Bacillus thuringiensis dan formulasi NPV. Dapat pula menggunakan predator alami seperti kumbang carabid, laba-laba dan 40 spesies parasit dari famipi Scelionidae, Braconidae, Ichneumonidae dan Tachinidae. Selain pemberantasan, petani juga perlu melakukan tindakan pencegahan melalui sanitasi gulma seperti Amarantus sp., Passiflora foetida, dan Ageratum sp dan melakukan pengolahan tanah dengan membalik tanah dan membinasakan pupa yang ada dalam tanah.

Oleh karena itu, sangat penting bagi petani untuk mengetahui strategi penanganan dan pencegahan hama yang tepat dalam proses budidaya tanaman ubi jalar. Selain itu, diperlukan sebuah alat atau system yang membantu petani dalam memantau kondisi dan perkembangan pertanian secara real time terutama dari serangan hama, tanpa harus mengelilingi lahan dan mengecek tanaman satu per satu. Alat dan sistem otomatis bisa didapatkan di KerabaTani Indonesia yang merupakan start up pertanian berbasis teknologi yang kini sedang mengembangkan teknologi pertanian guna meningkatkan efektivitas dan efisiensi aktivitas pertanian. Beberapa produk teknologi pertanian KerabaTani adalah Zenbox, drone, dan beberapa alat lainnya yang bisa melakukan pemantauan secara otomatis berbasis android. Informasi lengkap mengenai produk tersebut bisa diakses di http://kerabatani.com/produk/. Website ini akan membantu petani Indonesia dalam mengatasi permasalahan di lapangan dan mengenal lebih jauh tentang KerabaTani Indonesia. Adanya produk pertanian berbasis teknologi ini, diharapkan mampu mendukung digitalisasi pertanian di Indonesia sehingga mampu menciptakan petani yang cerdas dan pertanian yang berkelanjutan

Leave a Reply