<strong>Yuk Cari Tahu! Ini Dia Berbagai Jenis Serangga Penyerang Tanaman Kubis</strong>

Yuk Cari Tahu! Ini Dia Berbagai Jenis Serangga Penyerang Tanaman Kubis

 

Sumber: faktualnews.co

Kubis merupakan jenis sayuran yang menjadi unggulan para petani datarana tinggi. Hal ini karena tanaman kubis memang mudah di budidayakan dan prospek pengembangannya yang terhitung bagus. Namun, dibalik semua itu, ternyata kubis tergolong tanaman yang sangat digemari oleh hama. Khususnya hama dari jenis serangga yang memberikan dampak cukup parah. Akibatnya, petani sering mengalami gangguan pada proses peningkatan produksi. Berikut ini beberapa jenis serangga yang gemar menyerang tanaman kubis, antara lain :

Ulat tanah (Agrotis ipsilon)

Ulat tanah merupakan jenis hama serangga yang patut diwaspadai karena serangannya tergolong sangat ganas dan dan berpotensi menimbulkan kerugian besar di awal tanam. Ulat tanah aktif di malam hari dan selalu memulai aksinya dengan menyerang tanaman muda. Tanaman kubis yang terserang ulat tanah bisa dilihat dari adanya gigitan larva pada pangkal batang atau tanaman kubis. Akibatnya, tanaman kubis akan mendadak mati pada usia yang masih muda. Sebelum menimbulkan efek yang lebih besar, petani bisa mengatasinya dengan melakukan pengamatan selintas dan pencabutan bibit atau daun kubis yang terserang larva ini. Selain itu, petani juga bisa melakukan penanganan secara kimiawi dengan menggunakan Lambda-sihalotrin (Matador 25 CS). Selanjutnya, agar hama ulat tanah tidak kembali menyerang, petani bisa menerapkan rekomendasi pencegahan di bawah ini, yaitu :

  • Melakukan penyulaman tanaman
  • Menambah intensitas penyiangan gulma terutama yang ada di pangkal tanaman muda dari gulma yang terdapat di sekitar kubis
  • Menjaga drainase di sekitar lahan kubis

Ulat daun kubis (Plutella xylostella)

Berbeda dengan ulat tanah, ulat daun kubis merupakan jenis hama serangga yang justru lebih sering menyerang tanaman kubis dewasa. Namun, tidak menutup kemungkinan pula menimbulkan kerusakan pada tanaman kubis yang masih muda atau yang sedang membentuk krop. Ulat daun kubis memiliki ciri warna hijau dengan ukuran tubuh sekitar 0,5-1 cm. Siklus hidupnya berkisar antara 10-14 hari. Serangannya seringkali mendadak dan sulit diprediksi. Hal ini berdampak pada kerusakan yang diakibatkan juga mendadak. Untuk mengetahui adanya serangan ulat daun kubis, petani bisa mengenali gejala-gejala yang ditimbulkan. Ulat daun kubis biasanya meninggalkan lubang-lubang pada daun, memecahkan bagian lapisan epidermis daun. Oleh karena itu, untuk untuk mengatasinya, petani bisa menggunakan beberapa cara, yaitu mekanis dengan cara melakukan pengamatan selintas dan pencabutan bibit atau daun yang terserang larva, kimiawi dengan menggunakan Dipel WP (2 g/L); Atabron 50 EC (1 ml/L), atau biocontrol dengan menggunakan parasitoid D. semiclausum dan menggunakan Angitia cereophaga atau Bacillus thuringiensis. Selain itu, petani juga perlu melakukan langkah pencegahan agar serangan ulat daun kubis tidak berkelanjutan, antara lain :

  • Tumpangsari kubis dengan tomat.
  • Sterilisasi tanah dengan uap air panas saat persemaian dilakukan.
  • Melakukan penyulaman tanaman.

Ulat krop kubis (Crocidolomia binotalis)

Ulat krop kubis memiliki ciri berwarna kelabu dan berubah warna menjadi hijau dengan tiga garis putih kekuningan setelah telur menetas. Ulat krop kubis cenderung menyerang pada daun muda hingga habis tak tersisa. Pada umumnya, gejala yang ditimbulkan yaitu adanya bercak putih pada daun, pucuk tanaman kubis habis dan batang kubis membentuk cabang serta beberapa crop berukuran kecil. Langkah penanganan yang bisa dilakukan adalah melalui pengamatan selintas dan pencabutan daun yang terserang larva ini terutama pada dua minggu setelah penanaman. Petani juga bisa menggunakan Curacron 500 EC dengan dosis 2 cc per liter air atau Decis 2,5 EC sebagai bentuk penanganan secara kimiawi atau menggunakan parasitoid E. Argenteopilosus. Selain itu untuk mencegah serangan ulat krop kubis lebih lanjut, petani bisa mengikuti beberapa rekomendasi berikut ini :

  • Melakukan penyulaman tanaman
  • Melakukan penyiangan gulma
  • Melakukan pengamatan berkala pada bagian bawah daun kubis terutama saat dua minggu setelah tanam

Ulat krop bergaris (H. undalis)

Ulat krop bergaris menyerang tanaman kubis dengan cara merusak pucuk tanaman dengan jalan mengebor. Akibatnya tanaman muda menjadi mati dan membentuk tunas baru dengan kualitas rendah. Petani bisa mengatasinya dengan cara biocontrol melalui penggunaan Bacillus thuringiensis (Delfin; Thurisida) dan Chlorfluazuron atau kimiawi melalui penggunaan insektisida emamektin benzoat. Selanjutnya, sebagai langkah pencegahan, petani bisa melakukan budidaya kubis tumpangsari dengan bawang putih, bawang merah, tomat dan selasih atau menggunakan rumah kasa.

Oleh karena itu, sangat penting bagi petani untuk mengetahui strategi penanganan dan pencegahan hama yang tepat dalam proses budidaya tanaman kubis. Selain itu, diperlukan sebuah alat atau system yang membantu petani dalam memantau kondisi dan perkembangan pertanian secara real time terutama dari serangan hama, tanpa harus mengelilingi lahan dan mengecek tanaman satu per satu. Alat dan sistem otomatis bisa didapatkan di KerabaTani Indonesia yang merupakan start up pertanian berbasis teknologi yang kini sedang mengembangkan teknologi pertanian guna meningkatkan efektivitas dan efisiensi aktivitas pertanian. Beberapa produk teknologi pertanian KerabaTani adalah Zenbox, drone, dan beberapa alat lainnya yang bisa melakukan pemantauan secara otomatis berbasis android. Informasi lengkap mengenai produk tersebut bisa diakses di http://kerabatani.com/produk/. Website ini akan membantu petani Indonesia dalam mengatasi permasalahan di lapangan dan mengenal lebih jauh tentang KerabaTani Indonesia. Adanya produk pertanian berbasis teknologi ini, diharapkan mampu mendukung digitalisasi pertanian di Indonesia sehingga mampu menciptakan petani yang cerdas dan pertanian yang berkelanjutan.

Leave a Reply